APAKAH LAWHUL MAHFUDZ ?

Umustaffar Mustaffar



Saya ditanya :

1. Apa itu Luh Mahfuz?
2. Apakah ada ayat al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang menyebut mengenai Luh Mahfuz?
3. Adakah al-Quran yang diturunkan di bumi sama dengan al-Quran yang berada di Luh Mahfuz seperti dalam ayat terakhir surah al-Buruj?
4. Bagaimana pula dengan perkataan ‘Kitab’ yang disebut dalam surah al-Hajj ayat 70?

Jawapan :

1. Luh Mahfuz ialah tempat catatan yang ditulis padanya ketetapan sekalian makhluk sehinggalah berlakunya hari kiamat nanti. [Lihat : Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah, Ibn Abi al-‘Izz al-Hanafi, hlm. 263]
2. Luh Mahfuz disebut juga dalam al-Quran sebagai ‘Kitab’. Antaranya ialah surah al-An’aam ayat 38, surah al-A’raaf ayat 37, surah al-Anfaal ayat 68, surah Yunus ayat 61, surah Huud ayat 6 dan banyak lagi. Ia juga disebut sebagai ‘Umm al-Kitab’ seperti dalam ayat 39 surah al-Ra’d dan ayat 4 surah al-Zukhruf. Perkataan ‘Lauh Mahfuz’ pula disebut dalam surah al-Buruuj ayat 22. Kesemua perkataan ‘Kitab’, ‘Umm al-Kitab’ dan ‘Lauh Mahfuz’ ini membawa maksud yang sama. Ayat-ayat yang disenaraikan di atas menyatakan bahawa setiap ketetapan makhluk telah dicatatkan di Luh Mahfuz baik dari sekecil-kecil zarah mahupun yang sebesar-besarnya. [Lihat : Tafsir al-Baghawi untuk kesemua tafsir ayat-ayat di atas]. Manakala hadis pula, ini adalah setakat pencarian saya saja. Ada diriwayatkan satu athar mengenai Luh Mahfuz daripada Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma : “Sesungguhnya Allah telah menciptakan Luh Mahfuz daripada mutiara yang putih, helaiannya daripada delima yang merah, penanya dari cahaya, kitabnya dari cahaya, bagi Allah 360 detik padanya, lebarnya adalah di antara langit dan bumi, Allah melihatnya sebanyak 360 pandangan setiap hari, Dia menciptakan, memberi rezeki, mematikan, menghidupkan, memuliakan, menghinakan dan Dia perbuat apa yang Dia kehendaki.” [Diriwayatkan oleh al-Tabarani, al-Hakim dan ad-Dhiya’ al-Maqdisi. Al-Hakim berkata : Isnadnya sahih tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya. Al-Zahabi berkata dalam al-Talkhis : Nama Abu Hamzah itu thabit tetapi dia waahin]. Dan ada lagi beberapa hadis yang menyebut mengenai Luh Mahfuz tetapi ia disebut sebagai ‘al-Zikr’ (riwayat al-Bukhari no. 3019) dan ‘al-Kitab’ (riwayat al-Bukhari no. 3022).
3. Al-Quran yang diturunkan di bumi sama dengan yang berada di Luh Mahfuz. Beberapa ayat menunjukkan bahawa sebelum al-Quran diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, ia telah tertulis di Luh Mahfuz; ayat 21-22 surah al-Buruuj, ayat 77-78 surah al-Waqi’ah, ayat 11-16 surah A’basa, ayat 4 surah al-Zukhruf. Dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma : ‘Al-Quran diturunkan sekali gus dari langit yang tertinggi ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan berperingkat-peringkat setelah itu’. Lagi riwayat daripada Ibn ‘Abbas : ‘Al-Quran itu diturunkan sekali gus oleh Allah daripada Luh Mahfuz kepada malaikat di langit dunia…’ [Lihat : Tafsir Ibn Kathir untuk ayat 77-78 surah al-Waqi’ah]. Ibn al-Qayyim rahimahullah menyatakan dalam tafsir ayat 4 surah al-Zukhruf : ‘Dan al-Quran itu telah ditulis oleh Allah di Luh Mahfuz sebelum langit dan bumi tercipta seperti firman Allah yang bermaksud : “(Sebenarnya apa yang engkau sampaikan kepada mereka bukanlah syair atau sihir), bahkan ialah Al-Quran yang tertinggi kemuliaannya; (Lagi yang terpelihara dengan sebaik-baiknya) pada Lauh Mahfuz.” (al-Buruj : 21-22). Para sahabat, tabi’in dan semua Ahlis-Sunnah dan hadis telah bersepakat bahawa setiap perkara yang berlaku sehingga ke hari kiamat telah tertulis di Luh Mahfuz, dan ayat-ayat al-Quran telah membuktikan bahawa Allah telah mencatatkan apa yang Dia lakukan dan katakan di Luh Mahfuz. Dia telah menulis di Luh setiap perbuatanNya dan kalamNya, sesungguhnya ayat ‘Binasalah kedua-dua tangan Abu lahab, dan binasalah ia bersama!’ telah berada di Luh sebelum wujudnya Abu Lahab.’ [Lihat : Bada’i at-Tafsir, Ibn al-Qayyim, 4/131]
4. Perkataan ‘Kitab’ dalam surah al-Hajj ayat 70 bermaksud Luh Mahfuz.

APAKAH TASAWWUF ITU?

Umustaffar Mustaffar


Ada persoalan yang ditanya pada saya :

Ustadz, apa itu Tassawwuf ? Bisa ga ustadz perjelas moga saya
begitu ngerti artinya ? Mohon jasa ustadz. Amin.

Jawapan : (Saya bicara dalam bahasa Indo atas permintaannya).

PENGERTIAN TASAWUF

Yaitu bersungguh-sungguh (dalam berbuat baik) dan meninggalkan sifat-sifat tercela.

Aslinya Tasawuf (yaitu jalan tasawuf) adalah tekun beribadah, berhubungan langsung kepada ALLAH, menjauhi diri dari kemewahan dan hiasan duniawi, Zuhud (tidak suka) pada kelezatan, harta dan pangkat yang diburu banyak orang, dan menyendiri dari makhluk di dalam kholwat untuk beribadah..

Adapun batasan tasawuf adalah : Maka berkata Junaed :
yaitu bahwa kebenaran mematikanmu dari dirimu dan kebenaran tersebut menghidupkanmu dengan kebenaran tersebut.
Dan ia berkata juga : Adalah kamu bersama ALLAH tanpa ketergantungan.
Dan dikatakan : Masuk pada segala ciptaan yang mulya dan keluar dari segala ciptaan yang hina.
Dan dikatakan : Yaitu akhlak mulia yang tampak pada zaman yang mulia beserta kaum yang mulia.
Dan dikatakan : Bahwa kamu tidak memiliki sesuatu dan sesuatu itu tidak memiliki kamu.
Dan dikatakan : Tasawuf itu dibangun atas 3 macam :
(1) Berpegang dengan kefakiran dan menjadi fakir
(2) kenyataan berkorban dan mementingkan orang lain
(3) Meninggalkan mengatur dan memilih.

PENGERTIAN ILMU HIKMAH

Ilmu hikmah adalah sebuah ilmu kebatinan dengan metode zikir dan doa, adakalanya juga dengan mantra berbahasa Arab atau campuran tetapi tidak bertentangan dengan akidah dan syari’at Islam, ditujukan untuk urusan duniawi seperti kekebalan, pangkat, karir, perjodohan, pengasihan dan lain-lain.

TATA CARA MENGUASAI TASAWUF

Maka wajiblah beramal dengan Islam, Maka tidak ada tasawuf kecuali dengan fiqih, karena kau tidak mengetahui hukum-hukum ALLAH Ta’ala yang lahir kecuali dengan fiqih. Dan tidak ada fiqih kecuali dengan tasawuf, karena tidak ada amal dengan kebenaran pengarahan (kecuali dengan tasawuf). Dan juga tidak ada tasawuf dan fiqih kecuali dengan Iman, karena tidaklah sah salah satu dari keduanya (fiqih dan tasawuf) tanpa iman. Maka wajiblah mengumpulkan ketiganya (iman, fiqih, tasawuf) .

Imam Malik berkata : Barangsiapa bertasawwuf tapi tidak berfiqih maka dia telah kafir zindiq (pura-pura beriman), dan barangsiapa yang berfiqih tapi tidak bertasawuf maka dia telah (berdosa) dan barangsiapa yang mengumpulkan keduanya (fiqh dan tasawwuf) maka dia telah benar.

Jadi Tasawwuf itu harus melalui Iman (akidah), Islam (syari’ah) dan Ihsan (Hakikat). Atau amal Syari’ah, Thoriqoh dan Hakikah. Maka Syari’ah adalah menyembah ALLAH, Thoriqoh adalah menuju ALLAH, dan Hakikah adalah menyaksikan ALLAH. Atau Syari’ah itu untuk memperbaiki lahiriah, Thoriqoh untuk memperbaiki bathiniah (hati), dan Hakikah untuk memperbaiki Sir (Rahasia diri). Memperbaki anggota tubuh dengan 3 perkata :
Taubat, Taqwa dan Istiqomah.
Dan memperbaiki hati dengan 3 perkara :
Ikhlas, jujur dan tenang.
Dan memperbaiki Sir (Rahasia Diri) dengan 3 perkara :
Muroqobah (saling mengawasi antara diri dan ALLAH), Musyahadah (saling menyaksikan antara diri dan ALLAH), dan Ma’rifah (Mengenal ALLAH secara mutlak dan jelas).

Harus melalui Ikhlas tingkat tertinggi (Khowwasul Khowwash). Dan ikhlas itu ada 3 derajat :
(1) Derajat Awam (umumnya manusia)
(2) Khowwash
(3) Khowwasul Khowwash. Maka :
(1) ikhlasnya orang awam yaitu mengeluarkan makhluk dari beribadah kepada ALLAH beserta mencari bagian-bagian dunia dan akhirat. seperti menjaga badan, harta, keluasan rizki, perdagangan dan yang indah dipandang
(2) Ikhlasnya Khowwash adalah mencari bagian akhirat tanpa mencari bagian dunia.
(3) Dan ikhlasnya Khowwashul Khowwash adalah mengeluarkan bagian-bagian semuanya (dunia dan akhirat). Maka ibadah mereka adalah sebenar-benar penyembahan, dan melaksanakan tugas-tugas dari ALLAH, atau cinta dan rindu melihat-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Faridh: “Bukanlah permintaanku berupa surga jannatun na’im, hanya saja aku mencintai surga untuk melihat-Mu”

TATA CARA MENGUASAI ILMU HIKMAH

Dengan puasa, zikir/wirid, amalan, doa, membaca ayat-ayat Qur’an, dengan mantra, sya’ir-syair yang dibuat para Ulama Hikmah atau yang didapat dari ilham para Ulama Hikmah atau dari ilham Ahli Tasawuf dan lain-lain.

TUJUAN TASAWWUF

Tujuannya adalah Ma’rifatullah (mengenal ALLAH secara mutlak dan lebih jelas).

TUJUAN HIKMAH

Tujuannya masalah duniawi seperti kekebalan, kesaktian, pengasihan, jodoh, ramalan, pengobatan, kerejekian dan lain-lain.

KEKUATAN LUAR BIASA

Kekuatan luar biasa ilmu hikmah termasuk kekuatan luar biasa Hissiah (panca indera/lahiriah) seperti berjalan di atas air, terbang di udara, melipat bumi, menimbulkan air, menarik makanan, tampaknya kegaiban dan lain-lain. Dan kekuatan luar biasa ahli tasawwuf adalah Hakikah / Ma’nawiyyah (sebenar-benarnya karomah) yaitu istiqomahnya (kontinyu) seorang hamba kepada Tuhannya dalam lahir dan bathin. Terbukanya hijab dari hatinya sehingga mengenal jelas Tuhannya. menguasai dirinya dan berbeda dengan hawa nafsunya, kuat yakinnya dan diamnya, tenang dengan ALLAH.

Imam Ibnu ‘A-tho-illah berkata : Seringkali ALLAH memberi rizki karomah (kekeramatan) pada orang yang tidak sempurna isqomahnya.

Yang diambil pelajaran oleh Ahli Tahqiq (Ahli Tasawwuf sejati) adalah jangan mencari karomah Hissiah ini dan jangan berpaling kepadanya. Karena kadang tampak karomah Hissiah ini pada tangan orang yang tidak sempurna istiqomahnya. Bahkan kadang tampak pada tangan orang yang tidak ada istiqomah sama sekali, seperti para tukang sihir dan dukun. Dan kadang tampak pada tangan-tangan Rahib (pendeta).Dan ini bukanlah karomah tapi Istidroj.

Imam Abu Yazid Al Bustomi berkata :
“Jika kamu melihat seseorang yang diberikan karomah (kekeramatan) sehingga dia dapat terbang di udara maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu melihat bagaimana kamu mendapatkan dia melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, menjaga batasan-batasan, dan melaksanakan syari’at”

LAFAZ SALAM

Umustaffar Mustaffar


Ucapan salam (sama ada “Salaamun ‘Alaikum” atau “Salaaman” atau “Salaamun”) di dalam al-Quran ada yang ditujukan kepada orang mukmin dan ada yang ditujukan kepada orang kafir atau jahil. Contoh bagi ucapan salam yang ditujukan kepada orang mukmin ialah;

وَإِذَا جَاءكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ
“Dan apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, maka katakanlah kepada mereka: ‘Salaamun ‘Alaikum’ (selamat sejahtera ke atas kamu). Tuhan kamu telah menetapkan bagi diriNya untuk memberi rahmat’” (Surah al-An’am, ayat 54).

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلاَمٌ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Doa ucapan mereka (yakni orang-orang beriman dan beramal soleh) di dalam Syurga itu ialah; ‘Maha Suci Engkau dari segala kekurangan wahai Tuhan!’. Dan ucapan penghormatan mereka di dalam Syurga itu ialah: ‘Salaamun’ (selamat sejahtera). Dan akhir doa mereka ialah; ‘Segala puji dipersembahkan kepada Allah yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam’”. (Surah Yunus, ayat 10)

Contoh ucapan salam yang ditujukan kepada orang kafir atau jahil pula;

وَإِذَا سَمِعُواْ اللَّغْوَ أَعْرَضُواْ عَنْهُ وَقَالُواْ لَنَآ أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ لاَ نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
“Dan apabila mereka (yakni orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Allah) mendengar perkataan yang sia-sia (dari orang kafir), mereka berpaling daripadanya sambil berkata: ‘Bagi kami amal kami dan bagi kamu pula amal kamu. ‘Salaamun ‘Alaikum’ (selamat tinggallah kamu). Kami tidak ingin berdamping dengan orang-orang yang jahil” (Surah al-Qasas, ayat 55)

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً
“Dan hamba-hamba Allah yang maha rahman, iaitu mereka yang berjalan di bumi dengan sopan santun. Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka berkata; “Salaaman” (al-Furqan, ayat 63).

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
“Maka janganlah engkau (wahai Muhammad) hiraukan mereka dan katakanlah: ‘Salaamun’. Mereka akan mengetahui kelak” (az-Zukhruf, ayat 89).

Para ulamak tafsir menjelaskan; ucapan Salam apabila dituturkan ia berada di antara dua makna;
1. al-Musalamah/al-Mutarakah; iaitu bermaksud selamat tinggal
2. at-Tahiyyah; iaitu bermaksud mendoakan keselamatan dan keamanan.
(lihat; Ahkam al-Quran, Imam al-Jassas, surah al-Qasas, ayat 55).

Maka apabila ucapan salam itu dituju/diberikan kepada orang kafir atau orang-orang jahil dalam ayat-ayat tadi, maka ia bermaksud mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, yakni kita tidak mahu bersekongkol dengan kesesatan dan kejahilan mereka atau kita membiarkan mereka dengan kejahilan dan kejahatan mereka. Adapun apabila ucapan salam itu diucapkan kepada orang-orang beriman atau kepada ahli-ahli syurga dalam ayat-ayat tadi, maka ia bermaksud mendoakan keselamatan dan keamanan atau memberi penghormatan.

Adakah harus kita memberi salam dengan hanya menyebutkan “Salam” sahaja? Persoalan ini kita akan huraikan di bawah.

LAFAZ-LAFAZ MEMBERI SALAM

1. Lafaz memberi salam yang terbaik ialah;

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Lafaz menjawab salam yang terbaik ialah;

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Diriwayatkan dari Imran Bin Hushain menceritakan; Seorang lelaki datang kepada Nabi –sallalallahu ‘alaihi wasallam- dan memberi salam dengan mengucapkan; Assalamu ‘alikum (السلام عليكم). Nabi menjawab salamnya dan berkata; “Ia mendapat sepuluh ganjaran”. Kemudian datang lelaki yang kedua dan memberi salam dengan berkata; “Assalamu ‘alaikum warahmatullah” (السلام عليكم ورحمة الله). Nabi menjawab salamnya dan berkata; “Ia mendapat 20 ganjaran”. Kemudian datang lelaki yang ketiga dan memberi salam; Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh” (السلام عليكم ورحمة الله وبركاته). Nabi menjawab salamnya dan berkata; “Ia mendapat 30 ganjaran” (HR Imam ad-Darimi, Abu Daud dan at-Tirmizi. Menurut Imam at-Tirmizi; hadis ini hasan).

Sebahagian ulamak berkata; sebaiknya orang yang memberi salam hanya berhenti pada “warahmatullah” untuk memberi peluang kepada orang yang menjawab untuk membalas dengan yang lebih baik iaitu sehingga “…wa barakaatuh” sebagai menyahut seruan Allah dalam firmanNya (bermaksud); “Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama)” (an-Nisa’, ayat 86).

2. Sekurang-kurang lafaz memberi salam ialah; Assalamu alaikum (السلام عليكم) sebagaimana dalam hadis tadi. Diharuskan juga dengan lafaz Salaamun ‘Alaikum (سلام عليكم) yakni tanpa “As” iaitu sebagaimana salam para malaikat kepada ahli-ahli Syurga yang diceritakan Allah di dalam al-Quran;

وَقالَ لَهُمْ خَزَنَتُها سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوها خالِدِينَ
“Dan penjaga-penjaga syurga mengalu-alukan mereka dengan kata-kata: Salaamun ‘Alaikum (Salam sejahtera kepada kamu), berbahagialah kamu, maka silalah masuk ke dalam Syurga ini dengan keadaan tinggal kekal di dalamnya (mereka pun masuk). (Surah az-Zumar, ayat 73)

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Salaamun ‘Alaikum (Selamat sejahteralah kamu), disebabkan kesabaran kamu. Maka amatlah baiknya balasan amal kamu di dunia dahulu” (Surah ar-Ra’du, ayat 24).

Berkata Imam Abu al-Hasan al-Wahidi; “Kamu boleh memilih sama ada hendak menuturnya dengan ma’rifah (yakni dengan ada “As”) atau dengan nakirah (yakni tanpa “As”)”. Berkata Imam an-Nawawi; “Menuturnya dengan ada “As” adalah lebih baik”. (Lihat; al-Azkar, Imam an-Nawawi).

3. Adakah harus memberi salam dengan sekadar menyebutkan “Salaam” sahaja (tanpa ‘Alaikum)? Imam Ibnu ‘Athir dalam kitabnya al-Nihayah menyebutkan tiga lafaz salam;
a) As-Salamu Alaikum
b) Salaamun ‘Alaikum
c) Salaamun (tanpa Alaikum)

Jadi berdasarkan kenyataan Ibnu Athir ini, lafaz “Salaamun” (سلام) juga harus digunakan untuk memberi salam. Di dalam al-Quran ada ayat menceritakan para malaikat memberi salam kepada Nabi Ibrahim dengan lafaz “Salaaman” (سلاما) dan Nabi Ibrahim menjawab dengan lafaz “Salaamun” (سلام). Ayat tersebut ialah;

وَلَقَدْ جَاءتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُـشْرَى قَالُواْ سَلاَماً قَالَ سَلاَمٌ
“Dan sesungguhnya telah datang malaikat utusan-utusan kami kepada Nabi Ibrahim dengan membawa berita yang menggembirakan, lalu mereka memberi salam dengan berkata: ‘Salaaman (salam sejahtera)’. Nabi Ibrahim menjawab; ‘Salaamun’’ (salam sejahtera)” (Surah Hud, ayat 69).

Namun ada ulamak berpandangan; lafaz “Salaamun” tidak memadai sebagai lafaz salam kerana ia bukan ucapan yang sempurna. Jika seseorang memberi salam dengan hanya menyebut lafaz itu sahaja, tidak sah salamnya dan tidak wajib dijawab. Mengenai ayat 69 (surah Hud) di atas, ayat tersebut bukanlah bertujuan menceritakan tentang lafaz salam malaikat dan Nabi Ibrahim, akan tetapi hanya menceritakan perbuatan memberi dan menjawab salam antara malaikat dan Nabi Ibrahim. Adapun lafaz salam, maka ia adalah sebagaimana yang disebut dalam ayat 73 (surah az-Zumar) dan ayat 24 (sura ar-Ra’du) tadi iaitu “Salaamun Alaikum”. (Ahkam al-Quran, Imam al-Jassas, surah Hud, ayat 69).

LAFAZ-LAFAZ MENJAWAB SALAM

Lafaz untuk menjawab salam yang paling ringkas ialah;

وعليكم السلام

Jawapan salam yang paling sempurna ialah;

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika dibuang wau (و) iaitu dengan menjawab “Alaikumussalam” (عليكم السلام), jumhur ulamak mazhab Syafi’ie berkata; diharuskan dan dikira menjawab salam (yakni tambahan wau itu –menurut jumhur ulamak mazhab Syafiie- adalah sunat, tidak wajib). Bagaimana jika dibuang perkataan as-Salaam, iaitu dengan kita hanya menjawab ‘Wa ‘Alaikum’ (وعليكم) sahaja? Sebahagian ulamak mazhab Syafi’ie mengharuskannya dan sebahagian mereka tidak mengharuskannya. Adapun jika dibuang wa (و) dan as-salam (السلام), iaitu dengan hanya menjawab “’Alaikum” (عليكم) sahaja, sepakat ulamak mazhab Syafi’ie melarangnya (yakni tidak harus dan tidak dikira menjawab salam).

Bagaimana jika seorang itu menjawab salam dengan lafaz sebagaimana lafaz memberi salam iaitu ia menjawab salam dengan berkata; As-Salamu ‘Alaikum (السلام عليكم) atau Salaamun ‘Alaikum (سلام عليكم)? Jawapannya adalah harus dan dikira menjawab salam (hukum ini disepakati oleh sekelian ulamak mazhab Syafiie). Ia berdalilkan hadis dari Abu Hurairah yang menceritakan; Nabi telah bersabda; “Allah menjadikan Adam setinggi 60 hasta. Apabila Adam selesai diciptakan, Allah berkata kepadanya; “Pergilah kamu kepada kumpulan malaikat itu dan berilah salam kepada mereka. Dengarlah apa jawapan mereka. Sesungguhnya itulah ucapan tahiyyah (aluan) untuk kamu dan zuriat kamu”. Adam pun pergi kepada mereka dan memberi salam; “As-Salamu ‘Alaikum (السلام عليكم)”. Mereka (malaikat) menjawab; “As-Salaamu ‘Alaika (السلام عليك ورحمة الله)” (HR Imam al-Bukhari dan Muslim). Perhatikan; malaikat menjawab dengan jawapan yang sama seperti lafaz memberi salam, menunjukkan bahawa ia adalah harus.

Wallahu a’lam.

Rujukan;

1. Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 4/498-502.
2. Al-Adab as-Syar’iyyah, Imam Ibnu Muflih, 1/437.
3. Al-Azkar, Imam an-Nawawi,
4. Ahkam al-Quran, Imam al-Jassas (surah al-Qasas (ayat 55) dan surah Hud (ayat 69)).
5. An-Nihayah, Imam Ibnu Athir (perkataan “سلم”).

SHOLAT DAN PUASA BAGI ANAK DOWN SYNDROME

Umustaffar Mustaffar


Soalan; Assalamualaikum, Tuan, Adakah wajib bagi anak down syndrome solat dan berpuasa?

Jawapan;

Antara syarat wajib solat dan puasa ialah mukallaf. Maksud mukallaf ialah; seseorang itu memiliki sifat-sifat yang menjadikannya mampu untuk menerima arahan Syarak (Allah dan Rasul) iaitu;
1. Berakal sempurna; yakni mampu membezakan antara baik dan buruk, dosa dan pahala, antara satu ibadah dengan satu ibadah yang lain.
2. Sampai umur (yakni telah baligh).
3. Sempurna pancainderanya; khusus yang berkaitan dgn penerimaan ilmu iaitu; mata dan telinga. Jika seseorang itu buta mata dan pekak telinganya (yakni rosak kedua-dua sekali), gugur kewajipan Syariat kerana ia tidak mempunyai alat untuk menerima arahan Syarak.

Oleh kerana individu down syndrome tidak mempunyai sifat pertama di atas (berakal sempurna), tidak wajiblah atasnya solat dan puasa.

Wallahu a'lam.

==============================

Soalan; assalamualaikum, ustaz..sekiranya kita mengeluarkan wang daripada KWSP ,adakah wang tersebut terus di zakatkan atau tunggu sehingga cukup haul..Harap ustaz terangkan..Terima Kasih...

Jawapan;

Di antara syarat wajib zakat ialah harta yang kita miliki adalah milik sempurna. Maksud milik sempurna ialah pemilik harta berkuasa ke atas harta yang wajib dizakati di mana ia boleh menggunakan harta itu dengan kehendaknya tanpa terikat dengan kebenaran dari orang lain.[1] Ada sebahagian ulamak mensyaratkan juga hendaklah harta yang dimiliki itu berada di dalam tangan pemiliknya, barulah dikatakan milik sempurna dan wajib dizakati.[2]

Melihat kepada wang KWSP, walaupun wang itu adalah milik kita namun tidaklah kita boleh menggunakannya kerana ia berada di dalam simpanan orang lain dan kita terhalang dari menggunakannya melainkan setelah wang itu diserahkan kepada kita. Ia menyamai situasi di mana wang kita dihutangi oleh orang lain. Jumhur ulamak membahagikan hutang kepada dua jenis;[3]

i. Hutang yang dapat diharap pelunasannya. Hutang jenis ini hendaklah dizakati pada setiap tahun bersama harta yang lain (jika mencukupi nisabnya).

ii. Hutang yang tidak dapat diharap perlunasannya. Hutang dari jenis ini tidak wajib dikeluarkan zakat kecuali apabila orang yang berhutang melunasinya, maka wajib dikeluarkan zakat sebaik sahaja hutang itu berada dalam tangan tanpa perlu menunggu genap haul (yakni cukup tempoh dimiliki) dan begitu juga, tidak dituntut mengqadha bayaran bagi tahun-tahun yang lepas.[4]

Melihat ciri-ciri yang ada pada wang KWSP, maka ia menyamai jenis hutang yang kedua di atas. Oleh demikian, ia tidak wajib kita keluarkan zakat melainkan apabila wang itu telah kita terima. Sebaik sahaja menerimanya, hendaklah dikeluarkan zakat jika jumlahnya mencapai nisab (iaitu nilai semasa 85 gram emas). Kadar yang wajib dikeluarkan ialah 2.5% (yakni atas RM1000 dikeluarkan sebanyak RM25). Tidak perlu diqadha zakat untuk tahun-tahun yang lalu (sebelum kita menerima wang tersebut) kerana ia tidak berada dalam pemilikan kita. Adapun untuk tahun-tahun mendatang (yakni selepas kita menerima wang), jika jumlah yang tinggal masih mencapai nisab tadi, wajiblah kita mengeluarkan lagi zakat apabila genap setahun kita miliki.

Wallahu a'lam.

Nota :

[1] Berdasarkan takrifan al-Milk oleh al-Kamal ibn al-Humam (lihat; Fiqh az-Zakah, 1/148).
[2] Iaitulah ulamak-ulamak mazhab Hanafi. Adapun ulamak-ulamak mazhab Syafi’ie mereka tidak mensyaratkan harta yang dimiliki berada dalam tangan pemiliknya. Memadai harta itu miliknya untuk diwajibkan zakat ke atasnya jika cukup nisab dan syarat-syarat yang lain sekalipun harta tersebut tidak berada dalam tangannya. Kesan khilaf dapat dilihat dalam masalah Mal al-Ghimar (مال الغمار) iaitu harta yang pemiliknya tidak dapat mengambil manfaat darinya kerana tidak berada dalam tangannya –walaupun harta itu secara sah diakui haknya- seperti; hutang yang diengkari dan pemiliknya tidak mempunyai saksi (untuk mensabitkan haknya ke atas orang yang berhutang) sedang tempoh haul telah pun sampai. Dalam hal ini, mazhab Hanafi berpandangan tidak wajib zakat kerana pemilikan tidak sempurna disebabkan harta itu tidak berada dalam tangan pemiliknya. Adapun ulamak-ulamak mazhab Syafi’ie berpandangan ia tetap diwajibkan zakat kerana mereka tidak mensyaratkan hal tersebut bagi pemilikan penuh. (Lihat; Al-Mufassal, Dr. Abdul Karim Zaidan, 1/354).
[3] Fiqh az-Zakah, 1/155-156.
[4] Fiqh az-Zakah, 1/157.

MENGUCAPKAN ''HAPPY CRYSMAS''

Umustaffar Mustaffar


Soalan; apa hukum mengucapkan “Selamat menyambut Hari Krismas”, “Selamat menyambut Depavali” dan sebagainya kepada penganut-penganut agama lain apabila tiba musim perayaan mereka?

Jawapan;

Hendaklah dibezakan di antara dua perkara;
Pertama; Sama-sama merayakan perayaan tersebut dengan mereka.
Kedua; Hanya sekadar mengucapkan selamat.

Perkara pertama telah disepakati atas pengharamannya oleh ulamak-ulamak muktabar hari ini.[1] Diharamkan ke atas orang Islam untuk sama merayakan perayaan-perayaan agama orang bukan Islam. Maksud sama-sama merayakan ini ialah turut sama melakukan upacara ibadah atau tradisi khusus yang dibuat oleh penganut agama terbabit sebagai menandakan sambutan bagi hari perayaan mereka. Sila baca jawapan saya tentang kongsi raya.

Adapun perkara kedua, iaitu mengucapkan selamat kepada mereka bersempena perayaan mereka, terdapat khilaf di kalangan para ulamak semasa/kontemporari hari ini;

Golongan pertama; mengharamkannya kerana ia menyerupai orang bukan Islam, seolah-olah mengiktiraf agama mereka dan membantu mempromosi agama mereka. Pandangan ini dikeluarkan ulamak-ulamak aliran Salafi terutamanya dari Arab Saudi seperti Syeikh Bin Baz, Syeikh Ibnu Uthaimin dan Lujnah Fatwa Arab Saudi sendiri. Sabda Nabi -sallallahu 'alaihi wasallam-: "Sesiapa menyerupai satu kaum, dia adalah dari kalangan mereka". Firman Allah (bermaksus): "Dan janganlah kamu saling membantu dalam perkara dosa dan permusuhan".

Golongan kedua; mengharuskannya kerana ia termasuk dalam pengertian berbuat baik dan mengucapkan ucapan yang baik yang tidak pernah ditegah oleh Allah untuk dilakukan atau diucapkan oleh orang Islam kepada orang-orang bukan Islam yang tidak memusuhi umat Islam. Pandangan ini dikeluarkan oleh Syeikh Mustafa az-Zarqa, Syeikh Dr. Ali Jum’ah (Mufti Mesir), Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Syeikh Mahmud ‘Akkam (Mufti Halab, Syiria) dan lain-lain. Firman Allah (bermaksud);

“Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang (kafir) yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu) dan tidak mengusir kamu keluar dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil” (Surah al-Mumtanahah, ayat 8)

“Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu” (Surah an-Nisa’, ayat 86). Berdasarkan ayat ini, jika seorang muslim mempunyai kawan atau saudara-mara dari kalangan orang bukan Islam yang biasa mengucapkan selamat untuknya pada hari raya Islam atau hari kegembiraan lainnya, haruslah ia membalas ucapan selamat itu bila tiba hari perayaan atau kegembiraannya sebagai bermuamalah dengan yang serupa sebagaimana yang dianjurkan oleh ayat. Berkata Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu-; “Sesiapa dari kalangan makhluk Allah yang mengucapkan salam/selamat untuk kamu, balaslah ucapannya sekalipun ia seorang Majusi kerana firman Allah tadi” (Tafsir Ibnu Kathir).

Menolak hujjah ulamak-ulamak yang melarang tadi, golongan kedua ini menjawab; sekadar mengucap selamat dan tahniah tidaklah boleh dikatakan kita telah menyerupai penganut agama lain atau merestui agama mereka atau membantu mempromosi agama mereka. Ia tidak lebih dari sekadar menzahirkan penghargaan dan penghormatan sesama manusia, bukan penghormatan kepada agama atau aqidah penganutnya.[2] Diceritakan dalam hadis bahawa pada satu hari lalu di depan Nabi jenazah seorang Yahudi. Nabi lalu bangun menghormati jenazah itu. Para sahabat yang bersama baginda lantas menegur; "Itu jenazah seorang Yahudi, wahai Rasulullah". Baginda lantas menjawab; "Bukankah ia jenazah seorang manusia" (HR Imam al-Bukhari, Muslim dan an-Nasai dari Sahl bin Hunaif dan Qies bin Sa'd). Nabi bangun menghormati jenazah Yahudi itu bukan kerana agamanya, tetapi atas dasar sesama manusia. Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan dalam fatwanya; "Ucapan-ucapan tahniah dan selamat yang biasa diucapkan bersempena perayaan-perayaan agama lain itu tidaklah terkandung di dalamnya sebarang pengakuan terhadap aqidah mereka atau kita meredhai agama mereka. Ia hanya sekadar ucapan-ucapan mujamalah (ucapan untuk menzahirkan kemesraan) yang telah menjadi adat sesama manusia".[3]

Kesimpulannya, sama-sama merayakan perayaan orang bukan Islam hukumnya adalah haram mengikut hukum yang disepakati semua ulamak. Adapun sekadar ucapan selamat atau penghargaan sebagai tanda kejiranan atau persahabatan sesama insan, para ulamak berikhtilaf. Ada ulamak mengharuskannya dan ada yang melarangnya. Dalam masalah khilaf, sesama umat Islam hendaklah saling menghormati antara satu sama lain.

Rujukan

1. Fatawa al-Lujnah ad-Daimah, 1/437, 1/439, 1/452 (al-Maktabah as-Syamilah)
2. Fatawa wa Istisyaraat al-Islam al-Yaum, 4/31 (al-Maktabah as-Syamilah)
3. Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Uthaimin, 3/45 (al-Maktabah as-Syamilah)
4. Fatawa Mustafa az-Zarqa' (Dar al-Qalam)
5. Fatawa Mu'ashirah, Dr. Yusuf al-Qaradhawi (Dar al-Qalam, Kuwait dan Qahirah).

SYARI'AT ATAU KHURAFAT

Umustaffar Mustaffar


Soalan; Assalamualaikum ustaz,saya sebagai hamba Allah amat musykil dengan adanya amalan, yang tidak diketahui di bolehkan atau tidak sehingga takut menjejaskan iman saya sebagai orang muslim (SYIRIK). Oleh yang demikian saya ada pertanyaan mengenai Ilmu Pengasih. Contohnya:
Bismillahhirrohmanirrohim
Mandiku mandi air Nur amanjani
Siraman sekali mudalah kulitku
Siram kedua datang kasih sayang sekalian yang memandang
Siraman ketiga bur memancar cahyaku
karena aku memakai pemikat bidadari dari syurga
mustajab diaku
kabul berkat izin Allah
Nurun ala nurin
bolehkah ianya di amalkan dan apakah ada kaitannya dengan pertolongan daripada makhluk halus? Diminta ustaz menghuraikan apa yang berada di benak saya selama ini.Minta pendapat daripada ustaz secepat yang boleh.

Jawapan;

Sebelum itu saya memohon maaf dari saudara kerana terpaksa mempamirkan
soalan saudara/saudari ini kerena ianya mustahak dan PENTING bagi pengetahuan dan berkongsi bersama dengan saudara2 kita di forum ini. Namun sepertimana yang dijanjikan, saya tidak akan mengemukakan nama dan tempat individu kerana dikuathiri akan menimbulkan FITNAH.

Jadi, dalah lebih baik saudara/saudari meninggalkan jampi/mentera yang tidak jelas maksudnya dan tidak jelas dari mana datangnya kerana dibimbangi ia membawa kepada pemujaan selain Allah (memuja iblis, syaitan, jin atau sebagainya). Sabda Nabi -sallallahu 'alaihi wasallam-; "Sesiapa menjaga dirinya dari melakukan perkara yang syubhah (yang samar antara halal atau haram), sesungguhnya ia telah menyelamatkan agama dan kehormatan dirinya. Sesiapa melakukan yang syubhah, dibimbangi ia akan terjatuh ke dalam yang haram" (HR Imam al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir –radhiyallahu ‘anhu-). Dalam sebuah hadis, Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Sesungguhnya jampi-jampi, tangkal-tangkal dan sihir tiwalah adalah syirik”. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Mas’ud r.a./al-Jami’ as-Saghir, no. 2002) (*At-Tiwalah ialah sejenis sihir pengasih iaitu yang digunakan untuk menjadikan seorang perempuan dikasihi oleh seorang lelaki. Lihat Faidhul Qadier, hadis no. 2002).

Jangan terpengaruh dengan perkataan Bismillah atau nama Allah yang tertulis di awal jampi/mentera atau diakhirnya kerana perkataan tersebut tidak boleh menjadi hujjah untuk menghalalkan yang haram sekalipun manusia menulis atau melafaznya puluhan atau ratusan kali sekalipun. Ia sama seperti seorang yang bersumpah dengan nama Allah sedangkan kandungan sumpahnya adalah palsu, maka nama Allah itu tidak menjadikan sumpah palsu itu sebagai benar (malah ia berdosa di sisi Allah kerana bersumpah palsu). Begitu juga seorang yang membaca Bismillah ketika minum arak, Bismillah itu tidak akan menjadikan arak itu halal.

Adalah memadai kita memohon hajat kita terus dari Allah dengan berdoa dengan bahasa yang kita fahami (mengikut hajat kita) atau dengan kita berzikir dan berdoa dengan doa-doa yang maksur dari Allah dan RasulNya. Cukup banyak doa-doa dalam al-Quran dan as-Sunnah yang dapat kita pilih yang bersesuaian dengan hajat kita. Doa yang diambil dari al-Quran dan as-Sunnah telah jelas kebenarannya, bebas dari syirik dan diberi pahala bila kita membacanya kerana ia adalah ibadah. Di samping berdoa dengan doa-doa yang maksur, kita juga boleh memohon hajat kita dari Allah dengan melakukan solat hajat, solat istikharah, solat malam dan amalan-amalan sunat yang lain (seperti puasa, sedekah, membaca al-Quran dan sebagainya di mana setelah kita melakukan amalan-amalan soleh itu, kita mengangkat tangan berdoa kepada Allah agar hajat kita dimakbulkan. Ini dinamakan bertawassul dengan amalan-amalan soleh). Jelaslah kepada kita bahawa cara dan kaedah untuk kita memohon hajat dari Allah mengikut cara yang telah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya di dalam al-Quran dan as-Sunnah cukup banyak, telah memadai untuk kita dan tidak perlu lagi kepada jampi-jampi, mentera-mentera atau lain-lainnya yang tidak pasti kebenaran dan manfaatnya.

MEMAKAI GIGI EMAS

Umustaffar Mustaffar


Soalan; Assalamualaikum ustaz..apa hukum memakai gigi emas..syukran

Jawapan;

Bagi wanita, harus memakai gigi emas jika menjadi adat (kebiasaan) setempat wanita-wanitanya berhias dengan memakai gigi emas. Adapun bagi kaum lelaki tidak harus sama sekali memakai gigi emas –begitu juga perhiasan-perhiasan yang lain dari emas- kecuali jika ada keperluan dan desakan sahaja. Ini kerana Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Dihalalkan emas dan sutera untuk kaum wanita dari umatku dan diharamkan untuk kaum lelaki” (HR Imam an-Nasai dari Abi Musa –radhiyallahu ‘anhu-).

Diriwayatkan dari ‘Arfajah bin As’ad –radhiyallahu ‘anhu- yang menceritakan;

أُصيبَ أنفي يومَ الكُلابِ في الجاهليَّةِ فاتخذتُ أنفاً من ورقٍ فأنْتنَ عليَّ فأمرني رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسَلَّم أنْ أتخذَ أنفاً من ذهبٍ
“Semasa peperangan al-Kulab (yang berlaku pada zaman Jahiliyah), hidungku telah rosak. Lalu aku membuat hidung dari perak. Namun hidung itu membusuk, maka Rasulullah menyuruhku agar membuat hidung dari emas” (HR Imam at-Tirmizi, Abu Daud dan Ahmad. Menurut at-Tirmizi; hadis ini hasan gharub).

Berdalilkan hadis ini, harus orang lelaki memakai emas jika ada keperluan dan desakan iaitulah untuk membaiki kecacatan di badan sekiranya tidak ada logam lain yang dapat mengambil tempat emas itu.

Wallahu a’lam.

HUKUM ORANG KAFIR ZIARAHI KUBURAN MUSLIM

Umustaffar Mustaffar


Soalan; Assalamualaikum ustaz..apa hukum perempuan kafir ziarah kubur orang Islam..syukran

Jawapan;

1) Menurut fatwa dalam laman as-Syabakah al-Islamiyah; “Tidak ada tegahan ke atas orang bukan Islam untuk menziarahi perkuburan orang Islam untuk mengiringi jenazah kawan atau sudara mara mereka yang Islam dengan syarat yang menguruskan jenazah itu ialah orang Islam. Menurut Ibnu al-Qasim (salah seorang ulamak mazhab Maliki); “Tidak ditegah orang kafir untuk berjalan mengiringi jenazah, untuk turut mendoakannya, malah tidak ditegah jika ia ingin hadir bersama ketika jenazah dimandi dan dikafankan seperti ia membantu membawa air mandian atau sebagainya” (Mawahib al-Jalil). (Fatwa no. no. 100076).

2) Mengenai hukum perempuan menziarahi kubur, terdapat khilaf di kalangan ulamak;

a) Menurut jumhur ulamak; makruh bagi kaum wanita menziarahi kubur berdalilkan sabda Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-;

لعن الله زوارات القبور
“Allah melaknat wanita-wanita yang menziarahi kubur” (HR Imam Ahmad dan at-Tirmizi dari Abi Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-).

b) Menurut mazhab Imam Abu Hanifah; diharuskan kaum wanita menziarahi kubur, malah ia disunatkan kepada mereka sebagaimana disunatkan kepada kaum lelaki berdalilkan sabda Nabi;

كنت نهيتكم عَن زيارة القبور، فزوروها. فإنها تزهد في الدنيا، وتذكر الآخرة
“Sesungguhnya aku dahulunya telah menegah kamu dari menziarahi kubur. Adapun sekarang ziarahilah kubur kerana ia sesungguhnya menjadikan kamu zuhud di dunia dan mengingatkan kamu kepada akhirat” (HR Imam Muslim dan at-Tirmizi dari Buraidah bin al-Hashib –radhiyallahu ‘anhu- dan Imam Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-. Lafaz hadis adalah mengikut riwayat Ibnu Majah).

Hadis kedua ini membuka keharusan menziarahi kubur tanpa membataskannya kepada kaum lelaki sahaja. Adapun hadis pertama di atas, laknat dalam hadis tersebut hendaklah difahami kepada wanita-wanita yang menziarahi kubur dengan disertai tangisan melampau,[1] raungan atau ratapan yang ditegah oleh Nabi dalam hadis yang lain antaranya hadis Abu Musa al-Asy’ari –radhiyallahu ‘anhu- yang menceritakan;
أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم برىء من الصالقة والحالقة والشاقة
“Sesungguhnya Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wasallam- berlepas diri (yakni tidak redha) dari wanita yang meraung/meratap (ketika berlaku musibah), wanita yang mencukur rambutnya (ketika musibah) dan wanita yang mengoyak-ngoyak pakaiannya (ketika musibah)” (HR Imam al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam.

Rujukan;

1. Laman as-Syabakah al-Islamiyah, fatwa no. no. 100076.
2. Fiqh al-Janaiz, Dr. Ahmad Mahmud Karimah, hlm. 56 (an-Nauh wa as-Shiyahah ‘Ala al-Mayyit) dan hlm. 394 (Hukm Ziyarati al-Qubur).

Nota ;

[1] Adapun tangisan yang biasa, ia diharuskan sebagaimana kata Saidina ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu- tatkala melihat ahli keluarga Khalid bin al-Walid mengangis pada hari kematian Khalid;
قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِي سُلَيْمَانَ مَا لَمْ يَكُنْ نَقْعٌ أَوْ لَقْلَقَةٌ
“Biarkanlah mereka menangis Abi Sulaiman (gelaran bagi Khalid) selagi mereka tidak menabur tanah atas kepala dan selagi mereka tidak meraung/meratap” (Soheh al-Bukhari, Kitab al-Janaiz, Bab; Ma Yukrahu ‘Ala an-Niyahah ‘Alal-Mayyit).

99 LANGKAH MENUJU KESEMPURNAAN IMAN

Bunda Fachry Haekal

01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksessan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambitious akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri.
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Berlakulah adil dalam segala urusan;
42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
45. Perbanyak silaturrahim;
46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
47. Bicaralah secukupnya;
48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
52. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
54. Hormatilah kepada guru dan ulama;
55. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
56. Cintai keluarga Nabi saw;
57. Jangan terlalu banyak hutang;
58. Jangan terlampau mudah berjanji;
59. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
61. Bergaul lah dengan orang-orang soleh;
62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
64. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
66. Jangan membenci seseorang karena pahaman dan pendiriannya;
67. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan
69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan.
70. Jangan melukai hati orang lain;
71. Jangan membiasakan berkata dusta;
72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
74. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita
76. Jangan membuka aib orang lain;
77. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
80. Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama,bangsa dan negara;
82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
83. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
85. Hargai prestasi dan pemberian orang;
86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan.
88. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisikal atau mental kita menjadi terganggu;
90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan kebenarannya;
94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
95. Sambutlah huluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
96. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri;
97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan merusakan;
99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang

“Sebarkanlah walau satu ayat pun” (Sabda Rasulullah SAW) “Nescaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Surah Al-Ahzab:71)

MENGAPA SAYA MEMLIH ISLAM

Is Haq
oleh : B. Davis (Inggris)

Saya lahir pada tahun 1931. Sesudah saya berumur 6 tahun, saya memasuki sekolah lokal untuk selama 7 tahun, kemudian saya masuk sekolah lanjutan. Saya tumbuh sebagai seorang Methodist, kemudian menjadi seorang Anglican, dan akhimya menjadi seorang Anglo Catholic.

Dalam semua perjalanan hidup keagamaan ini, saya merasa bahwa agama itu terpisah dari kehidupan biasa, seakan-akan agama itu hanya semacam pakaian yang hanya dikenakan pada setiap hari Minggu. Dan saya perhatikan banyak orang yang melepaskan diri dari ke-Kristenan, terutama angkatan mudanya, sehingga nampak dengan jelas bahwa agama Kristen tidak berdaya mengatasi krisis masyarakat sekarang. Lalu Kristen berusaha menarik para pengikutnya dengan setanggi yang berminyak wangi, cahaya-cahaya lampu yang gemerlapan, pakaian-pakaian para pendeta yang berwarna-warni dan jubah-jubah panjang dan lain-lain cara Romanisme, tanpa berusaha mengikut sertakan dirinya pada apa yang sedang berlangsung di luar Gereja. Semua itu telah cukup menyebabkan saya keluar dari agama Kristen dan menjadi seorang Komunis dan Facist.

Dalam komunisme saya berusaha mengetahui. Kebaikan-kebaikan masyarakat tanpa klas. Akan tetapi cerita-cerita yang terus menerus dari orang-orang yang melarikan diri dari "demokrasi baru" telah menyebabkan saya tahu bahwa komunisme itu alat Rusia untuk mencapai tujuannya menguasai dunia. Kemudian saya memalingkan muka ke arah yang berlawanan, yakni fascisme. Doktrin fascisme memberikan janji segala-galanya untuk manusia. Di bawah naungan fascisme saya berusaha untuk memenuhi jiwa saya dengan kebencian terhadap semua orang yang berlainan ras dan warna kulitnya. Dalam tempo beberapa bulan saja saya sebagai penyokong Musolini, saya teringat kepada perang dunia ke-2 dengan segala kejadiannya yang berupa siksaan-siksaan yang dilakukan oleh orang-orang Nazi. Lalu saya berusaha untuk melupakan saja pikiran ini. Kenyataannya, selama saya menjadi orang fascist, saya selalu tidak merasa ada ketenangan dalam hati kecil saya, akan tetapi saya tetap mengkhayalkan bahwa hanya dengan fascisme-lah segala kesulitan bisa diatasi.

Pada waktu hal itu menjadi puncak pikiran saya, tiba-tiba saya melihat majalah "Islamic Review" di sebuah lorong buku. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan saya mau membayar 2 Shilling dan 6 pence untuk membayar satu majalah yang membahas satu kepercayaan yang dikatakan oleh orang-orang Kristen, orang-orang Komunis dan orang-orang fascist sebagai kepercayaan yang tanggung dan hanya dianut oleh orang-orang perampok dan bandit-bandit. Tapi bagamanapun juga saya telah membeli dan membacanya, kemudian saya membacanya berulang-ulang. Hasilnya ialah bahwa ternyata Islam itu meliputi segala apa yang saya anggap baik dalam Kristen, dalam komunisme dan lain-lain, bahkan melebihi semuanya.

Waktu itu juga saya telah menjadi langganan majalah itu untuk setahun, dan hanya dalam beberapa bulan saja saya telah menjadi seorang Muslim. Saya merasakan adanya kebahagiaan yang meliputi jiwa saya; sejak saya beroleh petunjuk-petunjuk dari kepercayaan yang baru ini dan saya bercita-cita ingin belajar bahasa Arab nanti bilamana saya mampu. Saya sekarang sedang belajar bahasa-bahasa Latin, Perancis dan Spanyol

PERJANJIAN NAFS

IS HAQ (Jam'iyah Ismul Haq)

Dan saat Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang belakang mereka, dan Dia jadikan mereka saksi atas Nafs (anfus) mereka : 'Bukankah Aku Tuhan kamu ?' ; Mereka berkata : 'Betul ! kami menyaksikan.' ; Hal ini agar kamu tidak dapat berkata dihari kiamat : 'Sungguh kami lalai dari perjanjian ini'. - Qs. 7 al-A'raf : 172

Secara kontekstual ayat ini memang mengesankan adanya dialog dua arah antara Allah dengan Nafs (atau dalam ayat ini disebut juga dengan istilah anfus) yang baru akan memasuki kehidupan duniawinya dirahim seorang ibu. Jika benar bahwa memang ada perjanjian dialam bawah sadar nun jauh diawal keberadaan kita dahulu kala, maka apakah perjanjian ini benar berupa dialog antara dua individu yang berbeda ataukah ayat ini hanya metafora yang dimaksudkan memberi penegasan terhadap hakekat kebenaran ilahiah ?

Kepastian akan hal ini memang menjadi teka-teki bagi kita karena bagaimanapun kerasnya upaya kita mengingat kemasa itu sangatlah mustahil, bahkan kita tidak pernah ingat bagaimana pengalaman kita saat didalam rahim ibu kita selama kurang lebih tujuh bulan pasca ditiupkan-Nya roh kedalam jasad kita yang masih berupa janin ?

Namun terlepas dari kemisteriusan itu, menarik bila kita juga mengkaji sebuah ayat yang lain yang menceritakan dialog yang terjadi antara Tuhan dengan langit saat pertama dibentuk.

Lalu Dia menuju langit yang masih berupa asap, dan Dia bertanya kepada langit dan bumi : 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan rela atau terpaksa ? ; Keduanya menjawab : 'Kami datang dengan rela !' - Qs. 41 Fushilat : 11

Ayat ini memiliki persamaan konteks dengan ayat penciptaan manusia yang sudah kita bahas sebelumnya. Diayat ini kita bisa melihat juga gambaran dialog dua arah bagaikan individu satu dengan individu lainnya antara Allah dengan langit maupun bumi yang jelas-jelas disebut masih berupa asap. Mungkinkah asap dapat berbicara ?

Kita kesampingkan dulu semua kemaha kuasaan Tuhan disini, kita coba untuk tidak mengkambinghitamkan kebesaran Allah yang bisa menjadikan semuanya dalam kejapan mata berlabel Kun Fayakun. Alam semesta dijadikan melalui tahapan-tahapan yang panjang, keberadaan manusia dibumi ini pun melalui suatu rentang sejarah jutaan tahun dan itupun bukan dengan satu paksaan melainkan proses yang terjadi secara alamiah dimana Adam melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah atas pengaruh setan.

Secara akal sehat asap tidak dapat berbicara, pun kalau asap bisa berbicara, bagaimana mungkin Allah memberi ultimatum layaknya seorang tukang todong yang bermaksud memeras harta korbannya melalui jalan damai tanpa kekerasan sampai pada penganiayaan jika sikorban menolak menyerahkannya suka rela ?

Begitupula manusia, tidak adil untuk manusia jika ia diajak berbicara bahkan bersumpah saat kesadaran lahiriahnya belum lagi timbul. Tidakkah bila kita mengajak anak yang masih berusia dibawah satu tahun berjanji tentang sesuatu yang dia tidak akan ingat manakala sudah dewasa adalah suatu perbuatan yang sia-sia ?

Memang kita tidak bisa menyamakan perbuatan Allah dengan perbuatan manusia, akan tetapi tidak bolehkah kita berpikir logis sesuai fitrah yang diberikan-Nya sendiri ? Menurut saya, ayat-ayat semacam ini tergolong kedalam ayat mutasyabihat yang perlu pendalaman dan pengkajian secara mendalam. Beberapa ayat al-Qur'an lainnya memberikan padanan yang serupa dengan dua ayat tersebut.

Kemudian setelah itu hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang terpancar daripadanya beberapa aliran air dan sebagiannya lagi ada yang terbelah dan keluar air dari dalamnya. Ada pula diantara bebatuan ini yang runtuh jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lalali dari apa yang kamu kerjakan. - Qs. 2 al-Baqarah : 74

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah, kepada-Nya beribadah seluruh apa yang ada dilangit dan dibumi termasuk burung yang mengembangkan sayapnya ? masing-masing mengetahui cara sholat dan memujinya, dan Allah sangat mengetahui apa yang mereka lakukan. - Qs. 24 an-Nur : 41

Dan tidakkah mereka lihat sesuatu yang dijadikan Allah yang bayangannya bergerak kekanan dan kekiri karena sujud kepada Allah sedangkan mereka itu berserah diri ?. - Qs. 16 an-Nahl : 48

Dan kepada Allah sajalah bersujud apa yang ada dilangit dan dibumi, dengan rela ataupun dengan terpaksa, termasuk bayangan mereka diwaktu pagi dan petang. - Qs. 13 ar-Ra'd : 15

Dengan kata lain, dialog yang terjadi antara Allah dan langit serta bumi, dialog yang terjadi antara Allah dengan Nafs manusia, sampai pada ibadahnya para burung, batu dan bayangan kepada Allah bisa kita lihat sebagai pernyataan Allah mengenai ketertundukan seluruh ciptaan-Nya, mulai dari benda mati sampai benda hidup kepada semua ketentuan hukum dan keesaan diri-Nya yang asasi, baik secara sadar maupun tidak disadarinya.

Terjadinya perputaran bumi pada porosnya, pergerakan awan, lempeng bumi dan pegunungan sampai pada proses pembuahan ovum oleh sperma adalah contoh dari ketertundukan terhadap hukum-hukum kausalita yang sudah ditetapkan Allah. Tidak akan ada lagi alasan bagi kita untuk mengingkari karya besar Tuhan dialam semesta termasuk didiri kita sendiri, karenanya bagaimana manusia sampai bisa berpaling dan menjadikan berhala dalam berbagai modelnya selaku Tuhan tandingan ?

ISLAM vs VALENTINE

SEJARAH VALENTINE



Perayaan hari Valentine termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan valentin tersebut merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka.

Perayaan Valentine's Day memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus (pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.


Sejarah hari valentine I :

Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Tahu gak dewa Zeus? itu bokap-nye hercules.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.



Sejarah Valentine's Day II :

Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda yaitu dibawah ini:

* pastur di Roma
* uskup Interamna (modern Terni)
* martir di provinsi Romawi Afrika.

Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.


Sejarah hari valentine III :

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa:

For this was sent on Seynt Valentyne's day (Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus) Whan every foul cometh ther to choose his mate (Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya)


Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari valentine dan memanggil pasangan Valentine mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

* Sore hari sebelum santo Valentinus akan mati sebagai martir (mati syahid), ia telah menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
* Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka diam-diam.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.


Sejarah Valentines Day IV :

Kisah St. Valentine

Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar alias benul eh betul.

Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari gak tahu tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.

Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.


Kesimpulan:

Dari semua asal usul atau sejarah diatas bisa disimpulkan bahwa "hari valentin memiliki latar belakang yang tidak jelas sama-sekali", baik dari ceritanya maupun waktu terjadinya (perhatikan abad terjadinya sejarah diatas walaupun ada nama tokoh yang sama). Gimana menurut Anda?

Artikel di atas yang berjudul "Sejarah Hari Valentine - Mitos Valentine Day - Asal Muasal Hari Valentine" dikutip dari www.ateonsoft.com dan dari berbagai sumber lainnya.



VALENTINE MENURUT PANDANGAN ISLAM

Sebagai seorang muslim tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah kita akan mencontohi begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari Islam ?


Mari kita renungkan firman Allah s.w.t.:

“ Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surah Al-Isra : 36)


Dalam Islam kata “tahu” berarti mampu mengindera(mengetahui) dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekadar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, kapan(bila), bagaimana, dan di mana, akan tetapi lebih dari itu.


Oleh kerana itu Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng(mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut Taqlid.

Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Firman Allah s.w.t. dalam Surah AL Imran (keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.

HAL-HAL YANG HARUS DIBERI PERHATIAN:-

Dalam masalah Valentine itu perlu difahami secara mendalam terutama dari kaca mata agama kerana kehidupan kita tidak dapat lari atau lepas dari agama (Islam) sebagai pandangan hidup. Berikut ini beberapa hal yang harus difahami di dalam masalah 'Valentine Day'.


1. PRINSIP / DASAR
Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.


2. SUMBER ASASI

Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.

Firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.

Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.


3. TUJUAN

Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.


4. OPERASIONAL

Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara.
Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27)

Surah Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi : “…walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.


Sudah jelas ! Apapun alasannya, kita tidak dapat menerima kebudayaan import dari luar yang nyata-nyata bertentangan dengan keyakinan (akidah) kita. Janganlah kita mengotori akidah kita dengan dalih toleransi dan setia kawan. Kerana kalau dikata toleransi, Islamlah yang paling toleransi di dunia.


Sudah berapa jauhkah kita mengayunkan langkah mengelu-elukan(memuja-muja) Valentine Day ? Sudah semestinya kita menyedari sejak dini(saat ini), agar jangan sampai terperosok lebih jauh lagi. Tidak perlu kita irihati dan cemburu dengan upacara dan bentuk kasih sayang agama lain. Bukankah Allah itu Ar Rahman dan Ar Rohim. Bukan hanya sehari untuk setahun. Dan bukan pula dibungkus dengan hawa nafsu. Tetapi yang jelas kasih sayang di dalam Islam lebih luas dari semua itu. Bahkan Islam itu merupakan 'alternatif' terakhir setelah manusia gagal dengan sistem-sistem lain.


Lihatlah kebangkitan Islam!!! Lihatlah kerosakan-kerosakan yang ditampilkan oleh peradaban Barat baik dalam media massa, televisyen dan sebagainya. Karena sebenarnya Barat hanya mengenali perkara atau urusan yang bersifat materi. Hati mereka kosong dan mereka bagaikan 'robot' yang bernyawa.


MARI ISTIQOMAH (BERPEGANG TEGUH)

Perhatikanlah Firman Allah :
“…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”.


Semoga Allah memberikan kepada kita hidayahNya dan ketetapan hati untuk dapat istiqomah dengan Islam sehingga hati kita menerima kebenaran serta menjalankan ajarannya.

Tujuan dari semua itu adalah agar diri kita selalu taat sehingga dengan izin Allah s.w.t. kita dapat berjumpa dengan para Nabi baik Nabi Adam sampai Nabi Muhammad s.a.w.

Firman Allah s.w.t.:
“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka dia akan bersama orang-orang yang diberi nikmat dari golongan Nabi-Nabi, para shiddiq (benar imannya), syuhada, sholihin (orang-orang sholih), mereka itulah sebaik-baik teman”.


Berkata Peguam Zulkifli Nordin (peguam di Malaysia) di dalam kaset 'MURTAD' yang mafhumnya :-

"VALENTINE" adalah nama seorang paderi. Namanya Pedro St. Valentino. 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Sepanyol. Paderi ini umumkan atau isytiharkan hari tersebut sebagai hari 'kasih sayang' kerana pada nya Islam adalah ZALIM!!! Tumbangnya Kerajaan Islam Sepanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Semoga Anda Semua Ambil Pengajaran!!! Jadi.. mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini kerana hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam kita di Sepanyol..

Dikutip dari WIKIPEDIA dan dari berbagai sumber